Kesehatan

Perlukah Puasa Seks Sebelum Bertanding?

Kompas - Sejak zaman Yunani kuno para atlet sudah memegang teguh konsep puasa bercinta sebelum bertanding. Gagasan ini berawal dari mitos yang menyebutkan hubungan seks akan mengurangi level hormon testosteron sehingga ditakutkan atlet kurang agresif saat menghadapi lawan.
Aktivitas seksual bisa mengurangi kadar testosteron
Filsuf besar Plato adalah orang pertama yang mencuatkan mitos ini ketika menuliskan tentang juara Olimpiade Ikkos of Tarentum. Menurut literatur, Ikkos menyiapkan diri menghadapi pertandingan Olimpiade ke 84 di tahun 444 SM dengan menyantap babi hutan dalam porsi besar, keju dan daging kambing, serta menghindari aktivitas seksual. Ia khawatir hubungan seksual akan mengurangi kekuatannya.
Menurut artikel yang dimuat dalam Newsweek, orang-orang Roma tidak setuju dengan gagasan orang Yunani itu. Tahun 77 Masehi Pliny the Elder, penulis besar Romawi, menulis bahwa semangat yang mulai melempem bisa dikobarkan kembali dengan berhubungan seksual. Sejak itu, konsep seks akan mengurangi performa mulai ditinggalkan para atlet.
Pada awal tahun 1900, petinju legendaris Rocky Marciano menyatakan puasa bercinta selama sebulan sebelum pertandingan. Marciano adalah petinju kelas berat yang pensiun dengan rekor belum pernah dikalahkan.
Pada pertengahan abad ke-20, Muhammad Ali juga mengakui ia puasa bercinta dua bulan sebelum naik ring. Petinju legendaris itu mengatakan absen dari hubungan seks membuatnya lebih tenang dan tidak mudah dikalahkan. Ali merupakan petinju legendaris dengan rekor yang belum terpatahkan menang 56 kali dengan 37 KO dari 61 pertandingan.
Mengikuti jejak para seniornya, baru-baru ini petinju Manny Pacquiao juga menyebutkan ia terpaksa "pisah ranjang" dengan istrinya selama menyiapkan diri dalam laga besar. Ia baru menemui istrinya dalam kunjungan tertentu dan tentu saja ia menahan diri dengan tidak melakukan aktivitas seksual.
Tidak terbukti
Selama berabad-abad para atlet mematuhi pakem puasa bercinta ini demi penampilan terbaiknya saat berlaga. Bukan cuma petinju, para atlet dari cabang olahraga lain seperti American Footbaal dan sepakbola juga mengikutinya.
Ian Shrier, ahli kedokteran olahraga dari McGill University menyebutkan ada dua alasan mengapa para atlet rela menjauhi seks sebelum pertandingan. Pertama, hubungan seks dianggap bisa membuat atlet kehabisan tenaga dan kelelahan ketika bertanding. Mitos ini ternyata tidak terbukti.
Kedua, aktivitas seksual pada malam sebelum bertanding memengaruhi cara pandang seseorang. Namun belum diketahui kebenaran dari alasan kedua ini. "Aktivitas seksual sebelum kompetisi sebenarnya tidak memengaruhi kekuatan, keseimbangan, ketahanan atau kecepatan reaksi seorang atlet," kata Shrier.
Saluran televisi olahraga ESPN pernah melakukan riset mengenai hal ini. Mereka menguji atlet gulat pria dan wanita untuk mengetahui ketahanan kardiovaskular serta kekuatan tubuh bagian atas dan bawah menggunakan alat sensor yang didesain oleh United States Boxing Association.
Para pegulat itu diminta untuk tidak bercinta sehari sebelum melakukan serangkaian tes. Kemudian sehari setelahnya mereka diperbolehkan berintim-intim dengan pasangannya kemudian dites ulang.  Hasil penelitian menunjukkan secara fisik, kadar testosteron pegulat pria dan wanita tetap tinggi meski mereka sudah berhubungan seks.
Tommy Boone, psikolog olahraga juga mengatakan tidak ada landasan ilmiah yang mendukung mitos absen bercinta akan meningkatkan performa. Dalam penelitiannya tahun 1995 terhadap 11 atlet yang melakukan tes treadmill, tidak ada perbedaan performa pada atlet yang absen bercinta 12 jam sebelum tes dengan atlet yang melakukan hubungan seks.
"Memang ada perubahan fisik ketika berhubungan seks, yakni naiknya detak jantung dari 70 bpm menjadi 130 bpm. Namun dibandingkan dengan pengerahan tenaga saat pertandingan bola, tenaga yang dikeluarkan saat bercinta tidak akan berpengaruh banyak, kurang dari 25 persen," kata penulis buku Sex Before Athletic Competition: Myth or Fact ini.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa terlalu lama absen bercinta justru bisa menurunkan kadar testosteron. Lagi pula kalori yang dikeluarkan ketika berhubungan seks setara dengan naik tangga dua lantai sehingga dianggap tidak ada pengaruhnya.
Para ahli juga mengatakan bahwa yang dibutuhkan atlet sebelum pertandingan adalah cukup istirahat dan menghindari stres agar fokus pada laga yang akan dihadapi. Jadi bila hubungan seks bisa membuat seseorang atlet tidur nyenyak, maka mengapa harus dihindari?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- TERKAIT:


Bila Terlalu Lama Puasa Bercinta


TERLALU lama puasa bercinta bisa memengaruhi kondisi fisik seseorang, baik secara positif atau negatif. Apa sajakah itu?

Negatif
Sebuah studi dilakukan terhadap 46 pria dan wanita di Skotlandia, untuk mengetahui apakah hubungan seksual memengaruhi tekanan darah saat terjadi hal yang menimbulkan stres. Hasil studi tersebut dipublikasikan tahun 2006 dalam jurnal Biological Psychology. Kesimpulannya, orang yang tidak melakukan kegiatan seksual (sama sekali tidakintercouse dan masturbasi) selama dua minggu akan mengalami tekanan darah tinggi saat menghadapi hari-hari yang stres di kantor. Meski para responden melakukan kegiatan seksual seperti berpelukan atau berciuman, tapi mereka yang melakukan hubungan seksual saja yang bisa melalui hari-hari penuh tekanan dengan santai.

Positif
Sementara itu, sebuah studi terhadap 10 pria di Jerman dan dipublikasikan dalam World Journal of Urology tahun 2001 menunjukkan bahwa kegiatan bercinta yang dilakukan setelah lama absen justru menimbulkan sensasi orgasme yang lebih lama.

Dalam studi tersebut, para pria yang sudah tidak berhubungan seks selama lebih dari tiga minggu diminta untuk menonton film erotis di laboratorium, kegiatan yang sama juga dilakukan oleh responden setelah mereka berhubungan seks. Ternyata setelah lama puasa bercinta, para responden merasakan orgasme yang lebih lama dibandingkan dengan biasanya. Rupanya setelah absen bercinta selama tiga minggu, libido para pria justru meningkat sehingga saat bercinta pun sensasinya jadi luar biasa.
Sumber: Los Angeles Times
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Awas, Smarthphones Bikin Kulit Cepat Kisut



09/02/2011 10:04 | Info Kesehatan
Liputan6.com, Jakarta: Apakah Anda salah satu penggemar berat smartphone? Ada info menarik tentang dampaknya bagi kesehatan Anda.

Memang, memiliki smartphone seperti Blackberry mungkin sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Dengan smartphone, aktivitas surat elektronik, chatting, atau ber-internet ria dapat dilakukan secara bersamaan, kapan saja dan di mana saja. Ternyata dampak teknologi tinggi smarthphones tidak baik untuk kesehatan.

Dokter kosmetik menyatakan bahwa pengguna smartphone akan lebih cepat membuat Anda menjadi tua, ditandai dengan keriput dini. Kerut sebagai salah satu tanda penuaan yang biasanya dialami oleh seseorang di usia 30-an. Namun, wanita muda sekarang memiliki keriput lebih cepat karena terlalu sering menggunakan smartphone.

"Menatap layar ponsel yang kecil bisa membuat wajah mengerut di antara alis. Fenomena ini umumnya ditemukan pada orang yang menggunakan BlackBerry, iPhone, atau smartphone lainnya," ungkap pakar kecantikan Dr Jean-Louis Sebagh. Ia menambahkan, "Untuk mengatasinya, pengguna smarthphones dianjurkan untuk mengambil terapi 'BlackBerry botox'. Caranya dengan menyuntikkan botox di daerah antara alis."

Selain wajah, gangguan yang diderita oleh pengguna smartphone adalah jempol. Hal ini karena terlalu sering mengetik dengan ponsel, maka tangan menjadi kaku. Selain itu, ada juga "computer vision syndrome", mata kering karena menatap layar komputer terlalu lama. Jadi, lebih baik Anda pikirkan lebih dulu sebelum menggunakan teknologi ini. (medicmagic/Vin)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jangan Anggap Remeh Pria Tua!


20/01/2011 16:39 | Seksologi
Jakarta: Jangan pernah anggap remeh pria. Meski ia terlihat tua! Ya, istilah ini mungkin paling cocok menggambarkan permasalahan ini. Meskipun telah berumur, hasrat seksual para pria tidak akan pernah termakan oleh zaman.

Medicmagic mewartakan, Rabu (19/1), dalam sebuah penelitian membuktikan 30 persen pria di atas 75 tahun masih aktif berhubungan intim. Fakta ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Zoe Hyde, seorang ilmuwan dari University of Western, Australia. Penelitian ini melibatkan sekitar 2.700 responden laki-laki dengan rentang usia antara 75 sampai 95 tahun. "Usia bertambah, aktivitas seksual pria pun mulai menurun. Tapi hal itu tidak berarti mereka kehilangan minat terhadap seks. Sampai usia 95 tahun, beberapa orang masih menganggap seks sebagai suatu kebutuhan penting," ungkap Hyde seperti dikutip dari Reuters.

Selama ini masyarakat berpandangan, bahwa pria yang semakin 'peyot' akan menjadi aseksual atau individu yang tidak butuh seks. Hal itu terbantahkan dengan adanya penelitian ini. Salah satunya adalah terkait dengan aktivitas seksual pada orang dewasa yang lebih tua hingga yang uzur. Mereka berada dalam kisaran usia 85 sampai 95 tahun.

Fakta lain mengungkapkan, 48 persen dari semua responden masih menganggap seks itu penting. Namun, hanya 30 persen dari mereka yang mengungkapkan, masih aktif berhubungan intim dalam setahun terakhir. Di antara responden yang masih aktif, 40 persen mengaku tidak puas dengan aktivitas tempat tidur mereka. Sementara itu, selisih antara 18 persen merupakan rasio responden yang keinginannya tidak terpenuhi karena berbagai faktor. Faktor yang paling dominan adalah masalah kesehatan, seperti diabetes dengan komplikasi disfungsi ereksi dan masalah prostat.

Hormon seks pria testosteron, terus menurun seiring bertambahnya usia laki-laki. Hal itu juga menjadi faktor yang mengurangi aktivitas seksual para manula. Oleh karena itu HRT (hormone replacement therapy) dinilai dapat mengembalikan dorongan seks pada para manula. Jadi, jangan pernah anggap remeh laki-laki tua. (Vin)

Tidak ada komentar: